Minggu, 20 Januari 2013

RENUNGAN UNTUK IBU


Ketika itu, masih teringatkah saat mata belum terbentuk
Saat kata belum dapat terurai
Saat liku gerak tubuh belum terencana
Saat kaki belum Nampak dalam diri
Saat pendengaran masih sia dengan suara
Saat kegelapan rahim masih membungkus rencana tubuh
Adakah keringat kita menopang hidup kita,,?
Bahkan kita tiada punya ruh untuk sekedar menyuap
Empat masa kemudian,,
Rancangan hidup mulai tergores dengan lauh
Segarnya kesucian jiwa merasuk dalam batang ari
Masa kemasa terlewati dengan tiada sadar, bahkan terlupa
Sedikit tiada rasa lelah kita melewati
Berpangku dan merengkuh dalam sunyi dan diam
Tiada berpikir betapa payah pemilik sulbi
Pemelihara ari,,, menopang tubuh dalam diri dari hari kehari
Tak terlepas walaupun sekejap hanya menilik sedikit tenangnya air
Berjalan dengan gumpalan besar  
Melewatkan keringat bahkan airmata yang menetes
Tapi, kita tak menyadari itu,,,
ingatkah,,,?
Ingatkah saat kita diperjuangkan keluar dari sulbinya
Bertaruh nyawa merelakan hidup untuk tubuhmu
Saat ia tersenyum ikhlas dikala kita hanya bisa menangis melihat silaunya dunia
Dan ia mendekap kita,,
Sungguh tiada kata terima kasih kala itu
Bahkan dari masa kemasa, kala ia telah mengajar rangkain abjad untuk berkata
Dan Ia pula menitih sabar tuk kita dapat berjalan dan mendekatinya
Mengajar merendah  dengan etika
Adakah kau sadar,,?
Pernahkah kau gunakan itu
Untuk mendekat dan berkata dengan merendah
“Terima kasih ibu kau telah lahirkan aku kedunia,,,”
Sungguh tiada pernah
Kemudian,
Ingatkah kala kau beranjak dewasa, kala
Kau merengek meminta sesuatu dan ia tak punya,,?
Tahukah engkau ? dalam hati mereka menyalahkan diri,,
Menyalahkan karena tak dapat membahagiakan diri mu
Sadarkah juga kau yang setiap hari memeras keringatnya,,
Menjadikan budak pekerja yang siap kau tunggu hasilnya,,
Pernahkah kau merasa iba,,
Pernahkah kau berkata,, “aku bantu ibu,,”
Malah kau berkata menghardik dan tiada pernah merasa salah
“bantu aku ibu,,,”
Sungguh kau anggap raja dirimu
Memerintah ia Bekerja siang malam,,, payah tiada guna
Badai tiada rasa, hujan tiada membasah, panas tiada gerah
Berjuang hanya untuk dirimu si buah hati yang tiada terima kasih
Namun, apakah ia menyesal,,,?
Dan kemarin,,,ingatan yang masih hangat, tapi ingatkah engkau,,?
Saat ia melambai tangan untuk kepergianmu
Menangisi si buah hati yang rela pergi meninggalkannya
Dan Merelakan pangkuannya menjadi kosong
 Bergejolak hatinya, meronta berkhawatir tanpa henti
Kesana kemari mencari penghibur diri pelapas lara
Saat dirimu berencana menjadi seenaknya sendiri
Lepas dari orang tua dalam suasana baru
Tahukah ia berharap besar padamu,,
Bahkan ia mulai berhutang kesana kemari,,
Bekerja ekstra meluangkan seluruh upaya untuk
Dirimu tercinta namun tiada mencinta
Kala ia merintih bertanya “nak,,sedang apa kau disana,,”
 Dengan angkuh kau menjawab “kuliah bu,,,”
Sementara dirimu tertidur, bermalas-malas, menghambur-hambur
Apa yang ia beri,,,
Pernahkah kau merasakan perihnya hidup mereka,,,?
Pernahkah kau tahu ia merela untuk berhutang demi
Suatu yang telah kau hambur-hambur,,?
Ia rela menghinakan diri hanya karena dirimu disini
Yang tiada terima kasih
Ia adalah bidadari-bidadari surga
Tiada kata pamrih terucap sekalipun dalam lisannya
Tiada kata menyesal sekalipun dalam hatinya
Bagai mentari yang penuh sabar menerangi dunia
Tiada berhenti walau dunia memusuhi
Tiada keluh kesah, berpangku bahkan putus asa
Ia adalah embun kala surya menapakkan sinarya
Penyejuk hati terluka dan gundah gulana

Ia adalah bidadari-bidari,,
Pemilik surga dibawah telapak kakinya
Merela dan tiada pamrih terutus untuk menjadi
Budak seorang yang tiada pernah berterima kasih

Sadarlah wahai engkau yang berhat durjana
allohummaghfirlana waliwalidina warhamhuma kama
robbaya na syighoro,,,
robbana atina fiddunya hasana wafil akhiroti hasanah
waqina ‘adzabannar,,,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Next Prev home