Kamis, 14 Maret 2013

ISLAM MENJADI BERHALA??



Saya merasa judul diatas sangatlah provokatif bahkan saya pribadipun sebenarnya tidak terima dengan kata-kata yang saya usung diatas, namun fenomena yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari dan juga literatur-literatur yang kebetulan sedang saya gemari saat ini menunjukkan bahwasanya judul provokatif diatas memang perlu untuk saya gunakan dalam menulis artikel ini.
Islam adalah salah satu kepercayaan agama yang mempunyai pemimpin absolut yang disebut “Tuhan”, dimana Tuhan inilah yang sebenar-benarnya mengatur tatanan hidup manusia melalui firman yang direntangkan melalui perantara yang sering disebut “Rasul”, dimana setelah keabdiannya kepada Tuhan yang sangat private ia mendapat hak preogratif untuk mengatur umat dan menetapkan aturan yang secara eksplisit tidak tercantum dan memberikan pemahaman yang pasti dalam firman Tuhan-Nya tersebut, dan kemudian hak tersebut secara continue akan diturunkan secara terus menerus kepada semua manusia setelahnya, sehingga manusia seutuhnya layak disebut sebagai pemimpin sejati.

Islam yang tadinya –dan seterusnya- adalah agama dengan konsep ke-Tuhan-an yang sangat presticious seperti halnya yang telah disinggung sedikit di atas menjadi sangat kritis ketika terjadi suatu fenomena dimana konsep ke-Tuhan-an tersebut disalah artikan dengan meletakkan konsep ke-Tuhan-an pada agama itu sendiri, yang berarti bahwasanya agama tersebut telah menjelma menjadi Tuhan itu sendiri. Islam dijadikan sebagai landasan bertindak dengan mengecualikan Tuhan dan orang yang mempunyai hak preogratif mengatur tatanan umat yaitu Rasul, walaupun secara pribadi mereka mengaku bahwasanya jalan yang ia tempuh adalah berdasarkan tuntunan dan aturan Tuhan yang terwujud dalam firman dan agama namun tindakan mereka tak terlihat seperti halnya apa yang telah diperlihatkan utusannya, dimana hanya ia lah yang mempunyai ke-keprivatan kepada Tuhan dan ia lah yang paling tahu apa yang diajarkan dan di amanatkan Tuhan kepadanya untuk di ajarkan kepada seluruh umat manusia.
Pemaksaan yang berbuntut kepada kekerasan adalah yang saya maksud diatas. Inilah yang menurut hemat saya pribadi menunjukkan bahwasanya islam telah menjelma menjadi sebuah berhala bagi sebagian orang yang agak egois dalam memahami islam dan firman sehingga secara tidak sadar mereka telah bahu membahu mendikte Tuhan untuk merumuskan kembali konsep ke-Tuhan-an ala mereka. Prespektif pribadi saya ini di dukung dan terealisasi dalam berbagai keyataan:[1] pertama, menurut saya berhala bukanlah benda atau realitas masa lampau yang hanya ada dalam wilayah agama, berhala adalah realitas sejarah yang membentuk masyarakat dan menentukan hidup dan mati sebagian besar anggotanya sehingga terjadi suatu hal yang bernama pemutlakan, antara lain pemutlakan kekuasaan, pemutlakan milik pribadi, pemutlakan organisasi bahkan sampai pada pemutlakan pada tataran madzhab. Kedua, pemaksaan yang berbuntut kepada kekerasan yang menjadikan islam disebut berhala karena mereka –oknum-oknum yang terlibat- menampilkan diri dengan karakteristik ke-Tuhan-an: ultimateness (orang tidak bisa melampauinya) menjadikan seseorang tak mampu mengikuti jalan pikir kelompok-kelompok pembela Tuhan, karena aturan itu hanya secara khusus tersetting dalam konsep pribadi kelompok tersebut, self-justification (mereka tidak perlu menjastifikasi dirinya untuk manusia) menjadikan semua yang diluar dirinya dan kelompoknya adalah salah, padahal sebelum justifikasi salah tersebut terucap dengan bengisnya kepada orang lain mereka belum bahkan merasa tak perlu melakukan introspeksi diri, untouchability (berhala-berhala tidak bisa digugat dan yang melakukannya hancur) membuat sebagian orang yang telah mendapatkan seruan keras mengenai konsepsi baru yang di usung oleh kelompok ini menjadi begitu sanksi, sehingga terjadi benturan-benturan ideologi yang bahkan berujung pada kekerasan dan pengrusakan, selebihnya kritikus-kritikus yang melancarkan ketidak setujuan mengenai konsepsi yang coba di penetrasikan kelompok ini dalam masyarakat menjadi lahan empuk untuk melancarkan serangan-serangan baik berupa verbal maupun fisik yang kemudian berujung pada sensifitas bagi masing-masing pihak yang terlibat.
Ketiga, berhala menurut definisinya, yang melahirkan berhala-berhala lain adalah konfigurasi masyarakat yang tidak adil secara struktural dan permanen, dan ditopang oleh berbagai realitas lainnya seperti politik, organisasi, patriarki, budaya, etnis, intelektual dan agama, yang mempunyai analoginya dalam realitas berhala. Begitu juga halnya dalam berhala islam yang telah terorganisir dalam sebuah kelompok yang mempunyai modal intelektual, dimana secara jelas bahwasanya kelompok tersebut menjadi minoritas permanen bahkan cenderung tak mempunyai budaya karena budaya yang beredar dianggapnya tak sesuai sehingga patut untuk dihilangkan sehingga dapat dikatakan bahwasanya kelompok ini mencoba mengasingkan diri dan kemudian merebut basis kuasa dengan modal doktrin pemurnian agama dari budaya dengan modal intelektualitas ala modernitas yang telah ditempa dan sengaja digunakan untuk mematahkan dominasi kaum tradisional yang telah lama membaur dengan masyarakat dan budaya setempat.
Keempat, berhala-berhala ini menuntut pemujaan (seperti  praktik kejam dari kapitalisme dan sosialime riil pada masa lampau) sehingga menimbulkan suatu kefanatikan dan mereka juga menuntut ortodoksi (ideologi-ideologi yang menopangnya); mereka menjanjikan keselamatan pada orang-orang yang menjadi abdinya, tetapi berhala islam ini melakukan dehumanisasi dan memecah orang-orang seperti halnya kekerasan-kekerasan atas nama agama yang sering digemakan oleh salah satu kelompok islam yang menjanjikan pembebasan dengan praktik dehumanisasinya. Terakhir dan yang paling gawat, berhala ini menimbulkan banyak korban tak berdosa –atau mungkin dianggap berdosa- yang mereka bawa ke kematian secara perlahan melalui kesengsaraan, ketidakberdayaan dan pada kematian yang kejam karena penindasan. Kesimpulannya, berhala ini membutuhkan korban –semacam tumbal- untuk bertahan hidup, menurut hemat penulis penindasan yang dilakukan oleh para oknum yang menjadikan islam menjadi semacam berhala ini hanyalah bentuk kekhawatiran mereka bahwasanya ajaran mereka akan semakin tergusur oleh perkembangan zaman yang semakin kritis sehingga akhirnya dirasa perlu bagi mereka untuk melakukan ekspansi ajaran demi eksistensi mereka bahkan ketika harus menggunakan cara kekerasan.
Dari berbagai kenyataan diatas terbuktilah bahwasanya judul provokatif yang saya gunakan pada artikel ini bukanlah hal yang sia-sia karena pastinya judul ini akan menuntut seseorang untuk mengkritisi sehingga terjadilah suatu diskusi panjang yang diharapkan akan berujung pada penyelesaian yang kooperatif kedepannya.


[1] Berbagai realitas yang saya ajukan merupakan perspektif Jon Sobrino yang tertuang dalam Wim Bauken, Karl-Josef Kuschel, et al, Agama sebagai Sumber Kekerasan?, terj. Imam Baihaqi, Cet 1, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003, hlm. 74-76. Yang saya benturkan dengan realitas keberagamaan di Indonesia, dalam hal ini adalah Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Next Prev home